UTS TEORI PENDEKATAN KONSELING



TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER
Disusun guna memenuhi tugas Teori Pendekatan Konseling
Dosen Pengampu : Mulawaraman, S.Pd., M.Pd., Ph.d



                        FITRI INSI NISA
0106518060



JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019


1.     Jelaskan dengan ringkas bagaimana kecemasan terjadi pada diri individu dan bagaimana mekanisme atau cara yang bisa digunakan untuk mengurangi kecemasan tersebut dilihat dari sudut pandang teori konseling psikoanalisis !

Menurut sudut pandang Psikoanalisis dalam melihat kecemasan, awal kecemasan terjadi itu bisa masuk ke dalam tiga katagori, yang pertama itu kecemasan yang real atau objektif dimana kecemasan ini spontan muncul ketika terjadi sesuatu pada dirinya, misalkan ketika individu itu belum mengerjakan PR tetapi harus segera dikumpulkan munculah kecemasan itu pada diri individu karena takut dimarahi guru, takut kena hukuman dan sebagainya. Kedua adalah kecemasan muncul akibat traumatic pada masa kecilnya, menurut Freud 0-5 tahun adalah masa dimana individu akan menyerap dengan mudah pengalaman-pengalaman masa kecilnya, baik itu yang menyenangkan maupun yang membuat individu itu trauma, sehingga kehidupan/kepribadian individu ketika dewasa terbentuk dari pengalaman masa kecilnya itu, maka dari itu kecemasan ini yang biasanya sering terjadi di masyarakat apalagi ketika usia-usia sekolah mulai muncul dan terlihat. Dan yang terakhir adalah kecemasan saat id dan superego bertolak belakang, yang artinya individu itu sendirilah yang membuat kecemasan itu muncul karena misalkan perbuatan yang dilakukannya melanggar moral yang ada di masyarakat sehingga individu harus bisa menerima setiap konsekuensi yang telah dilakukannya.
Beberapa cara/mekanisme dalam mengurangi terjadinya kecemasan pada diri individu bisa dnegan upaya represi yang artinya disini individu itu berusaha untuk menolak setiap kecemasan yang muncul pada dirinya tapi sering kali pada tahapan ini individu tidak sadar akan penolakannya, karena individu itu merasakan perasaan tidak nyaman ataupun merasa terancam sehingga ia dengan sendirinya tidak mempedulikan perasaan cemas tersebut. Kemudian ada yang namanya proyeksi, menurut saya mekanisme ini biasanya lebih bersifat plying victim artinya disini individu berusaha selalu membenarkan dirinya dan menjadikan orang lain sebagai alasan kenapa kecemasan itu muncul. Atau bisa juga dengan cara pemindahan penyaluran kecemasan tersebut, misalkan seorang wanita marah dan kesal kepada kedua orang tuanya karena tidak diijinkan keluar malam untuk menonton film favoritnya dengan pacarnya, bentuk pemindahan penyaluran kecemasan ini bisa ditimpakan kepada pacarnya, ia marah kepada pacarnya kenapa mengajak menonton film favorite nya pada malam hari, sedangkan siang ataupun sore juga bisa. Ataupun bisa juga dengan mekanisme regresi yaitu cara dimana individu berusaha untuk kembali ke masa-masa dimana ia bisa memenuhi kebutuhan psikoseksualnya, biasanya individu akan kembali ke usia antara 0-5 tahun itu, karena masa itu adalah awal pertama individu merasakan lebih aman dalam hidupnya, namun bisa juga antara 0-5 tahun itu justru adalaha saat dimana individu merasakan kecemasan yang amat sangat, maka dari itu individu diarahkan untuk kembali ke masa-masa dimana ia merasa senang saja akan dapat di manifestasikan ke perilakunya ketika masa sekarang.
2.   Jelaskan bagaimana cara manusia untuk dapat menjaga eksistensi dirinya dilihat dalam perspektif dimensi filosofis eksistensial humanistic !

Menurut pandangan dimensi filosofis eksistensial humanistik dalam menjaga eksistensinya, serorang individu harus dasar akan keadaan dirinya yang sekarang itu seperti apa jika memang dirasa sudah cukup dalam keadaan yang sekarang makan pertahankan dan jika memang merasa kurang eksis maka harus berusaha mengembangkan ke eksisannya dalam setaiap keadaan, karena pada dasarnya menurut teori esksistensisal humanistic ini individu itu dibebaskan dalam memilih setiap keputusan untuk dirinya asalkan tetap pada rasa tanggung jawab yang tinggi dalam menerima segala konsekuensi akan keputusannya tersebut dengan menanggulangi setaiap kecemasan yang hadir ketika membuat keputusan tersebut karena pada dasarnya individu bukanlah hanya suatu kekuatan-keuatan yang ada pada dirinya tetapi juga diluar dirinya sehingga individu mampu untuk memepertahankan, mengembangkan, menciptakan dan memperlihatkan apa yang ada pada dirinya.

3.   Menurut Rogers perlu adanya kondisi-kondisi fasilitatif agar terjadi perubahan terapeutik dan perilaku pada individu yang mengalami inkongruensi. Jelaskan kondisi-kondisi fasilitatif yang bagaimana agar terjadi perubahan terapeutik tersebut!

Seperti yang sudah kita ketahui inkongrueni itu sendiri adalah adanya kesenjangan antara apa yang individu itu sendiri konsepkan dengan apa yang orang lain nilai mnegenai individu tersebut sehingga munculah kecemasan dan ancaman yang dirasakan individu, maka kondisi fasilitatif yang membentuk terjadinya perubahan terapeutik pada diri individu sehingga dapat menanggulangi inkongruensi tersebut dengan cara sebagai berikut :
Perlunya terapis/konselor yang benar-benar kongruen, artinya konselor harus menjadi dirinya sendiri yang menyenangkan dan memunculkan sifat aslinya yang baik.
Penerapan positif tidak bersyarat, konselor menerima konseli seutuhnya tanpa syarat apapun tanpa melihat batasan dan perilaku konseli yang kurang baik, konselor harus wellcome terhadap setiap permasalahan dan latar belakang individu tersebut.
Yang terakhir mendengarkan secara empati, sebenarnya dalam penanganan konseli menggunakan pendekatan person-centered itu konselor hanya perlu mendengarkan dan mengobservasi, dua hal tersebut yang perlu konselor lakukan. Proses mendengarkan dengan penuh rasa empati, bisa merasakan apa yang konseli rasakan tapi tetap dapat mengontrol diri tanpa ikut terhayut didalanya. Proses ini dirasa efektif karena dapat memunculkan kembali sisi kongruen konseli karena konselor melihat konseli dari berbagai sudut pandang tanpa menyudutkan.
4.   Dalam teori konseling Gestalt dikemukakan bahwa kontak dan penarikan diri (withdrawl) serta resistensi terhadap kontak merupakan cara manusia untuk menuju keseimbangan dan mengintegrasikan bagian-bagian dirinya yang mengalami perpecahan. Jelaskan menurut saudara makna dari apa yang dikemukakan oleh teori konseling gestalt tersebut dan berikan contoh aplikasi dari pernyataan teori tersebut.

Mengenal manusia tidak didasarkan pada diri individu itu saja, tetapi terintegrasi dengan lingkungan di mana individu tersebut berada, oleh karena itu kontak dengan lingkungan itu sangat penting dalam kehidupan individu, terlepas dari individu itu selalu menjaga dan bertahan kontak dengan lingkungan perlu adanya juga penarikan diri atau yang disebut dengan withdrawl untuk tetap menjaga keseimbangan dan mengintegrasikan bagian dalam dirinya. Individu tidak harus melulu selalu melakukan kontak tetapi sesekali jika dirasa perlu untuk menarik dirinya dalam lingkungannya itu juga diperlukan agar tidak terlalu jenuh atau merasa ada kepentingan lain yang lebih mendominasi lingkungan lainnya, karena gesalt sendiri adalah persepsi artinya setiap individu berhak berpersepsi mengenai lingkungannya sendiri.
Contohnya misalkan mahasiswa PPS BK UNNES membentuk BEM Fakultas, mereka setiap minggu selalu mengadakan pertemuan rutin, akan tetapi pada suatu minggu saya tidak bisa menghadiri pertemuan tersebut karena harus pulang kampung, karena saya rasa pulang kampung itu jarang sekali kemudian ketika ada kesempatan saya gunakan kesempatan itu, dan kebetulan pertemuan kali ini tidak membahas hal yang terlalu urgent dan masih bisa di wakilkan.

5.     Jelaskan apa yang terjadi ketika individu tidak dapat melengkapi siklus hidupnya secara Gestalt !

Menurut Gestalt ketika individu tidak dapat melengkapi siklus hidupnya maka akan muncul sebuah masalah yang salah satunya masalah tersebut adalah unfinished business, yaitu individu yang memiliki kebutuhan tetapi tidak terpenuhi, perasaan yang tidak terekspresikan dan keadaan/situasi/suatu keadaan yang dirasa belum terselesaikan dengan baik, hal tersebut mengganggu pikiran individu sehingga individu cenderung bingung dengan dirinya dan apa yang sebernarnya terjadi dengan dirinya.

Analisis Kasus menggunakan Teori Gestalt

Pada dsaranya teori gestalt memandang manusia dalam kehidupannya selalu aktif kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah laku setiap individu karena manusia adalah seseorang yang mampu mengatur hidupnya sendiri. Pada pendekatan ini tidak memandang yang namanya masa lalu akan tetapi hakikatnya waktu adalah saat ini (hire and now), kedepan kita tidak tau dan kebelakang tidak usah diingat lagi, yang artinya kemarin dan kedepan adalah persepsi masing-masing individu. Dalam pendekatan ini jika kesenjangan terjadi antara masa sekarang dan masa yang akan datang maka akan timbul suatu kecemasan, bisa dilihat pada kasus Palupi, ia hidup dalam lingkungan keluarga yang baik dan mendapatkan perlakuan yang baik dari setiap anggota keluarganya, tetapi Palupi berpersepsi jika semua laki-laki itu jahat karena iya memiliki pengalaman/urusan tidak selesai dengan teman laki-lakinya waktu SMP yang sering mengganggu dirinya sehingga ia berpersepsi jika semua laki-laki itu jahat kecuali Ayah dan Adiknya. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Jika unfinished business ini tidak cepat terselesaikan maka akan berdampak tidak hanya sekedar pesepsi ia tentang semua laki-laki itu jahat akan tetapi bisa saja perkataannya yang tidak mau menikah atau bahkan ia memiliki perasaan ingin membunuh laki-laki yang menindasnya, itu sudah pada ujung kecemasan yang harus segera ditangani karena ia Palupi hanya berfokus pada persepsi individu tentang kenyataan ataupun pengalaman yang dialaminya selama ini (Fenamenologis). Konselor harus menjadi agen frustator yang artinya konselor harus menumbuhkan rasa kegelisahan konseli sehingga ia berbicara soal keresahannya agar tidak menghindari kontak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIKOLOGI EKSISTENSIAL : ROLLO MAY

TEORI PERSON-CENTERED

TEORI RELASI OBJEK (MELANIE KLEIN)