REFLEKSI PENDEKATAN GESTALT
REFLEKSI PENDEKATAN GESTALT
Tugas Mata Kuliah Teori dan Pendekatan Konseling
Dosen: Mulawarman, Ph.D
Fitri Insi Nisa
0106518060
PROGRAM PASCA SARJANA
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2019
TUGAS MANDIRI
TEORI & PENDEKATAN
KONSELING GESTALT
1.
Deskripsikan konsep figure ground
dan bagaimana contoh dalam perilaku individu sehari-hari !
Figure ground ini menganggap bahwa setiap bidang pengamatan
dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan ground (latar
belakang). Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia secara sengaja ataupun tidak
memilih serangkaian stimulus dalam dirinya, mana yang
dianggapnya sebagai figure dan mana yang dianggap sebagai ground. Untuk mempersepsi stimulus mana yang akan
menjadi figure dan mana yang akan
ditinggalkan sebagai ground, ada
beberapa prinsip dalam pengorganisasiannya, salah satu contohnya prinsip continuity yaitu prinsip ini menunjukan
bahwa kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses melengkapi informasi
yang diterimanya walaupun sebenarnya stimulus tidak lengkap, sebagai contohnya
ketika dalam satu kelas terdapat pola maupun latar belakang yang berbeda-beda,
tetapi jika beberapa orang dalam kelas tersebut dalam mengumpulkan tugas
pelajaran kimia lama maka kelas tersebut akan dipersepsi oleh guru mata
pelajaran tersebut bahwa kelas A itu kalau mengumpulkan tugas lama.
2.
Menurut anda apakah pengaruh unfinished
business terhadap diri individu maupun bila terjadi pada diri konselor ?
Seperti yang kita ketahui unfinished business terjadi kepada
individu yang
memiliki kebutuhan tetapi tidak terpenuhi, perasaan yang tidak terekspresikan
dan keadaan/situasi/suatu keadaan yang dirasa belum terselesaikan dengan baik,
hal tersebut mengganggu pikiran individu sehingga individu cenderung bingung
dengan dirinya dan apa yang sebernarnya terjadi dengan dirinya. Ketika individu
tidak dapat melakukan hal seperti yang disebutkan diatas maka akan munculah
sebuah masalah dan kecemasan yang bisa terjadi kepada siapa saja yang mengalami
unfinished business tersebut, pada
konseli maupun konselor juga bisa mengalami.
3.
Jelaskan prinsip-prinsip gestalt dalam memahami perilaku individu !
Ada 5 prinsip gestalt dalam memahami perilaku
individu, yaitu :
· Prinsip Proximity, yaitu prinsip pengelompokan atau posisi. Prinsip ini
menjelaskan mata manusia mempersepsikan
hubungan antara unsur-unsur visual bahwa hal-hal yang
berdekatan satu sama lain dianggap lebih terkait/satu kelompok daripada hal-hal
yang terpisah.
·
Prinsip Similarity, yaitu prinsip kesamaan
bentuk, warna dan ukuran. Prinsip
ini menyatakan bahwa mata manusia cenderung untuk
membangun hubungan antara unsur-unsur yang sama dalam sebuah desain. Kesamaan
dapat dicapai dengan menggunakan elemen dasar seperti bentuk, warna, dan ukuran.
·
Prinsip closure, yaitu prinsip penutupan bentuk, ketika
melihat susunan objek dengan unsur yang kompleks, mata cenderung untuk
mencari pola tunggal yang dikenal. Prinsip ini menjelaskan bahwa mata manusia memiliki kecenderungan untuk
menyelesaikan bentuk yang tidak lengkap kemudian merasionalisasi secara
keseluruhan.
·
Prinsip continuity, yaitu
prinsip kesinambungan pola, terjadi ketika mata dipaksa untuk bergerak melalui
satu objek dan terus ke objek lain. Prinsip ini menegaskan bahwa mata manusia mengikuti
garis, kurva atau urutan bentuk untuk menentukan hubungan antar elemen desain.
·
Prinsip figure
ground, yaitu ptinssip objek utama-latar belakang. Prinsip ini menegaskan
bahwa mata akan memisahkan seluruh obyek
dari latar belakangnya untuk memahami apa yang sedang dilihat. Hal ini mengacu pada hubungan antara unsur-unsur
positif dan ruang negatif. Persepsi seseorang saat melihat suatu objek di
bagian atas akan lebih kuat daripada latar belakangnya, terutama pada saat
objek dan latar belakangnya ditampilkan secara bersamaan.
4.
Deskripsikan 5 jenis resistensi individu yang perlu dipahami oleh
konselor gestalt !
·
Introyeksi (Introjection)
Introyeksi adalah memasukkan ide-ide, keyakinan-keyakinan
dan asumsi-asumsi tentang diri individu, seperti apa individu seharusnya dan
bagaimanan individu harus bertingkah laku. Dalam proses interaksi dengan
lingkungan, individu yang sehat dapat membedakan dan memberikan batasan antara
dirinya dan lingkungannya. Akan tetapi, individu yang melakukan proses
introyeksi pada diri (self) individu, yaitu bila individu
memasukkan ide-ide, keyakinan, dan nilai yang dianut lingkungan terhadap
dirinya tanpa proses filterisasi, sehingga individu tidak dapat membedakan
dirinya dengan lingkungan. Hal ini membuat self mengadopsi
semua nilai lingkungan yang top dog, sehingga self berusaha
untuk mempertahankan diri dalam posisi under dog.
·
Proyeksi
Proses dimana individu melakukan atribusi
kepada pemikiran, perasaan, keyakinan dan sikap orang lain yang sebenarnya
adalah bukan milik individu. Proyeksi juga berarti individu tidak dapat
membedakan dirinya dan lingkungan, mengatribusikan diri kepada orang lain serta
menghindari tanggung jawab terhadap perasaan dan diri individu sebenarnya,
serta membuat individu tidak berdaya untuk membuat perubahan.
·
Retrofleksi (retroflection)
Retrifleksi adalah proses di mana individu
mengembalikan implus-implus dan respon-respon kepada dirirnya karena ia tidak
dapat mengekspresikannya kepada orang lain dan lingkungan. Dalam hal ini
individu menekan perasaanya karena ia tidak dapat menerima kehadiran perasaan
tersebut, atau individu mengetahui dan mempercayai bahwa perasaan itu tidak
dapat diterima oleh orang lain disekitarnya.
·
Defleksi (deflection)
Defleksi adalah metode penghindaran, yaitu cara
mengubah pertanyaan atau pernyataan menjadi memiliki makna lain sehingga
individu dapat menghindari dari merespon pertanyaan atau pernyataan tersebut.
Defleksi merupakan cara untuk menghindari kontak dengan kenyataan. Defleksi
dapat terlihat dari penggunaan humor yang berlebihan, menjawab pertanyaan
dengan tersenyum atau tertawa melakukan generalisasi abstrak, menghindari
kontak mata.
·
Confluence dan
Isolasi (isolation)
Confluence secara harfiah
berarti menyatu. Hal ini bermakna bahwa individu berada dalam hubungan dengan
lingkungan, menjadi orang lain, tempat, objek, atau ideal-ideal. Individu tidak
dapat membedakan antara dirinya dengan lingkungan, selalu sesuai dan tidak ada
konflik antara keyakinan dan pikiran orang lain dengan dirinya. Orang yang
mengalami confluence biasanya tidak pernah mengekspresikan perasaan
sebenarnya. Orang yang mengalami confluence biasanya
mengisolasi diri dari lingkungan. Ia menarik diri dari lingkungan dalam rangkan
mengamankan perasaanya dari kondisi yang tidak dapat ditoleransi oleh
dirinya.
5.
Menurut anda bagaimana cara/prosedur inti konselor gestalt dalam
membantu konseli yang bermasalah ?
·
Fokus utama konseling gestalt adalah terletak
pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul
dalam kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk
dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya.
Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya
secara penuh. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif, ia akan
menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa
yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang.
·
Konselor hendaknya menghindarkan diri dari
pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis,
interpretasi maupun memberi nasihat.
·
Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan
tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang
menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Dalam hal ini, fungsi konselor
adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap
faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan
dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien.
6.
Apa makna yang dapat anda petik dari mempelajari konseling pendekatan
gestalt ?
Makna yang dapat diambil setelah mempelajari pendekatan gestalt adalah
saya semakin termotivasi untuk membantu konseli dalam menangani masalahnya dan
mencapai tugas-tugas perkembangannya sehingga konseli dapat mencapai
tugas-tugas perkemabangannya secara optimal dengan menitikberatkan pada semua
yang timbul pada saat ini, artinya konselor tidak hanya melihat masa lalu
konseli (seperti yang di jelaskan pada pendekata-pendekatan sebelumnya) untuk
dapat mengamati konseli tetapi masa sekarang juga harus sangat diperhitungkan,
juga karena pendekatan gestalt ini benar-benar sangat memperhatikan atau
menekankan kepada proses yang ada selama terapi atau proses konseling
berlangsung agar konseli memandang kehidupannya dan permasalahan yang
dialaminya pada masa sekarang.

Komentar
Posting Komentar