OUTLINE PSIKOANALISIS
TEORI DAN PENDEKATAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
(PENDEKATAN PSIKOANALISIS)
Disusun guna memenuhi tugas Teori Pendekatan
Konseling
Fitri Insi Nisa (0100518060)
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
OUTLINE
TEORI & PENDEKATAN KONSELING
PROGRAM
STUDI MAGISTER BIMBINGAN KONSELING UNNES
|
No
|
Aspek
|
Deskripsi
|
Referensi
|
|
1
|
Nama
Teori & Pendekatan Konseling
|
PSIKOANALISIS
|
|
|
2
|
Tokoh
Pengembang teori
|
Sigmound Freud
|
Sugiharto, DYP. Mulawarman. Sunawan. 2017.
Bahan Ajar Teori Dan Pendekatan Konselig. Semarang: UNNES PPS BK Press
|
|
3
|
Konsep
Dasar:
a.
Hakekat manusia
b.
Konsep Kepribadian & Perkembangan
|
a.
Hakekat Manusia
Pandangan
Psikoanalisis tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic,
makanistik dan reduksionistik. Menurut Freud, manusia dideterminasi oleh
kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan
dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-peristiwa
psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama kehidupan. Freud juga
menekankan peran naluri-naluri. Segenap naluri bersifat bawaan dan biologis.
Freud menekankan naluri seksual dan implus-implus agresif. Ia melihat tingkah
laku sebagai determinasi oleh hasrat memperoleh kesenangan dan menghindari
kesakitan. Manusia memiliki naluri-naluri kehidupan, maupun naluri-naluri
kematian. Menurut Freud tujuan segenap kehidupan adalah kematian, kehidupan
tak lain adalah jalan melingkar kearah kematian.
b.
konsep kepribadian dan perkembangan
menurut
pandangan psikoanalisis, struktut kepribadian terdiri dari tiga sistem : id,
ego dan superego. Ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis dan
jangan dan saling keterkaitan untuk mengoprasikan kepribadian. Id adalah
komponen biologis, ego adalah komponen psikologis dan superego merupakan
komponen social.
1.
System yang pertama yaitu Id.Id adalah sistem
kepribadian orisinil, kepribadian setiap orang hanya terdiri
dari id ketika dilahirkan. Id merupakan tempat adanya naluri-naluri. Id
kurang terorganisassi, menuntut, mendesak. Id tidak bisa menoleransi
ketegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin.
Dengan diatur oleh asas prinsip kesenangan, bertujuan untuk mengurangi
ketegangan, menghindari rasa sakit, dan memperoleh kesenangan, Id bersifat
tidak logis, amoral, dan didorong untuk memenuhi kebutuhan instingtual. Id tidak pernah matang dan selalu menjadi
anak manja dari kepribadian, tidak beerpikir, dan hanya menginginkan atau
bertindak keluar dari kesadaran.
2.
Sub sistem yang kedua yaitu Ego, Ego
memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego adalah “eksekutif”
yang mengatur, mengendalikan, dan mengatur kepribadian. Tugas utama dari ego
adalah menengahi antara insting dan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan
kesadaran dan melakukan sensor. Dengan diperintah oleh prinsip realitas, ego
berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana
tindakan bagi memenuhi kebutuhan. Ego sebagai pusat kecerdasan dan
rasionalitas, memeriksan dan mengendalikan dorongan buta Id. Ego menbedakan
gambaran mental dan hal-hal di dunia eksternal.
3.
Sub system yang ketiga yaitu, Superego, superego adalah cabang keadilan atau hokum
dari kepribadian. Superego adalah kode moral seseorang yang menjadi perhatian
utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah.
Superego mewakili nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat yang
diturunkan dari orang tua kepada anak-anak. Superego berfungsi untuk
menghambat Implus Id, untuk membujuk ego menggantikan tujuan moralistic
dengan realistis, dan unruk mencapai kesempurnaan. Superego berkaitan dengan
imbalan-imbalan dan hukuman. Hadiahnya adalah perasaan bangga dan mencintai
diri, sedangkan hukumannya adalah perasaan bersalah dan rendah diri.
Perkembangan kepribadian berkenaan dengan bagaimana
individu belajar mereduksi ketegangan atau kecemasan yang dialami dalam
kehidupannya. Ketegangan atau kecemasan tersebut bersumber pada empat unsur,
yaitu: proses pertumbuhan fisiologis, frustasi, konflik, ancaman. Cara ego menghadapi ancaman yang
menimbulkan ketegangan atau kecemasan melalui penolakan, pemalsuan ataupun
memenipulasi kenyataan di sebut mekanisme pertahanan ego. Bentuk-bentuk
mekanisme pertahanan ego antara lain :
·
Identifikasi,
yaitu cara mereduksi tegangan dengan mengimitasi atau mengidentifikasi diri
dengan orang yang dianggap lebih berhasil memuaskan hasratnya disbanding
dirinya.
·
Penyangkalan,
yaitu pertahanan melawan kecemasan dengan “menutup mata” terhadap keberadaan
kenyataan yang mengancam,
·
Proyeksi, adalah melemparkan keadaan diri (misalnya
kecemasan) kepada orang atau subyek lain,
·
Fiksasi, adalah terpaku pada suatu tahap perkembangan
karena takut memasuki tahap perkembangan berikutnya,
·
Regresi, yaitu kembali ke tahap perkembangan berikut.
·
Rasionalisasi,
yaitu menciptakan alas an-alasan yang “baik” guna mengindarkan ego dari
cedera; memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak
begitu menyakitkan.
·
Sublimasi,
yaitu menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara social
lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
·
Displacement, yaitu mengalihkan perhatian dari satu
obyek ke obyek lain, baik dengan kompensasi maupun sublimasi,
·
Represi, yaitu menolak atau menekan dorongan-dorongan
yang muncul dengan cara tidak mengakui adanya dorongan tersebut,
·
Rekasi-formasi, adalah mengganti dorongan yang muncul
dengan hal-hal yang sebaliknya,
Perkembangan kepribadian individu
dari sejak lahir hingga dewasa terjadi dalam 5 fase-fase yaitu:
1.
Fase Oral, yang merupakan fase perkembangan dimana anak berkembang berdasarkan pengalaman
kenikmatan pada daerah mulut melalui tindakan mengisap akan mempengaruhi
kehidupannya di masa dewasa.
2.
Pada fase Anal perkembangan anak pada fase ini berpusat
pada kenimatan di daerah anus. Pada fase anal anak mulai belajar untuk
mengendalikan buang air kecil, termasuk belajar untuk menerima
perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan serta berpengalaman memperoleh
reaksi-reaksi dari orang tua berhubungan dengan pengendalian buang air.
Dalam fase ini peran latihan buang
air (toilet training) sangat penting untuk belajar disiplin dan moral.
Pelatihan buang air beserta segenap reaksi orang tua terhadap anak akan
mempengruhi pembentukan kepribadian anak.
3.
Fase Phallis merupakan fase dimana anak mulai menerima
perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang
tubuhnya sendiri secara sehat. Mereka mulai mengembangkan hati nurani dan
mengenal standar moral, baik dan buruk.
4.
Fase Latent, Pada masa ini anak menjalankan tugas-tugas
belajar. Masa latent merupakan masa pembentukan keterampilan yang tidak
terkait dengan unsur seks. Pada fase ini terjadi semacam penghentian
perkembangan.
5.
Fase Genital adalah fase dimana individu mulai tertarik
pada lawan jenis, bersosialisasi dan beraktivitas kelompok, perkawinan dan
membangun keluarga, serta menjalin hubungan kerja. Sepanjang fase ini
individu lebih memfokuskan pada hubungan dengan orang lain
|
Sugiharto, DYP. Mulawarman. Sunawan. 2017.
Bahan Ajar Teori Dan Pendekatan Konselig. Semarang: UNNES PPS BK Press
Corey, Gerald. 2017. Theory
and Practice of Counseling and Psychotherapy, Tenth Edition. USA: Cengange learning.
|
|
4
|
Proses
Konseling(Tujuan & tahapan umum)
|
Apabila menyimak konsep dari Freud, maka ada bebrapa
teorinya yang dapat diaplikasikan ke dalam bimbingan; yaitu konsep bahwa
manusia adalah mahluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Konsep ini dapat
dikembangan dengan proses bimbingan dengan melihat hakekatnya itu manusia
memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian
konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang
dibutuhkan dan apa yang dinginkan oleh konseli sehingga bimbingan yang
dilakukan benar-benar efektif. Tujuan akhir dari perawatan
psikoanalitik adalah untuk meningkatkan fungsi adaptif, yang melibatkan
pengurangan gejala dan resolusi konflik. Dua tujuan terapi psikoanalitik
Freudian adalah untuk mewujudkannyabawah sadar dan untuk memperkuat ego
sehingga perilaku lebih didasarkanpada kenyataan dan kurang pada keinginan
naluriah atau rasa bersalah yang tidak rasional.
Secara operasional tujuan konseling psikoanalisis
adalah sebagai berikut:
1.
Membawa klien dari dorongan-dorongan yang ditekan (ketidak-sadaran) yang mengakibatkan
kecemasan kearah perkembangan kesadaran intelektual.
2.
Menghidupkan
kembali masa lalu klien dengan menembus konflik yang direpres.
3.
Memberikan kesempatan kepada klien untuk menghadapi
situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya.
|
Corey, Gerald. 2017. Theory
and Practice of Counseling and Psychotherapy, Tenth Edition. USA: Cengange learning.
|
|
5
|
Kajian Empirik
Efikasi/efektivitas Pendekatan di seting Pendidikan & sosial
|
Psychotherapy For Panic Disorder: Implications For
Psychoanalytic Research, Theory, And Practice
Studi kemanjuran PFPP adalah bagian dari upaya
kecil tetapi terus meningkat untuk memperkenalkan psikoterapi psikoanalitik
ke dalam era pengobatan berbasis bukti, dalam arti bahwa ini adalah psikoterapi
psikoanalitik pertama untuk gangguan kecemasan DSM-IV Axis I primer yang
menunjukkan kemanjuran. Kita dapat berharap bahwa kolega nonpsychoanalytic,
dan lembaga yang memantau praktik klinis (American Psychiatric Association,
Institute of Medicine, National Institute for Health and Clinical Excellence
di Inggris), akan menunjukkan rasa hormat baru untuk psikoterapi
psikoanalitik untuk gangguan panik. Penelitian ini harus memberikan jeda
kepada mereka yang berada dalam peringkat kami sendiri yang mempertahankan
bahwa psikoanalisis dan psikoterapi psikoanalisis tidak dapat dipelajari
secara empiris.
Studi PFPP memiliki implikasi teoritis dan klinis
yang penting untuk psikoanalisis, menyoroti nilai terapeutik dari perawatan
psikoanalitik singkat — setidaknya untuk gangguan panik DSM-IV. Selain itu,
studi seperti ini dapat semakin memiliki implikasi pendidikan, dalam
mengidentifikasi pendekatan pengobatan yang harus dimasukkan ke dalam
pelatihan psikiater umum, psikolog, pekerja sosial, psikoanalis, dan
psikoterapis psikodinamik. Kami berharap bahwa studi PFPP akan menghasilkan
antusiasme dan dorongan aktif dalam komunitas psikoanalitik untuk studi
kemanjuran yang dapat dipercaya secara ilmiah dari perawatan psikoanalitik,
untuk berbagai gangguan, untuk menguji dan memperbaiki asumsi teoritis dan
klinis dasar kami.
Implikasi Untuk Pendidikan Psikoanalitik.
Kapasitas untuk mempelajari secara sistematis perawatan psikoanalitik manual,
dan semakin pentingnya studi sistematis dalam pendekatan kontemporer untuk
kesehatan mental, menunjukkan bahwa setidaknya pendidikan dasar penelitian
harus disediakan di lembaga psikoanalitik. Terapis harus belajar untuk
memahami literatur berbasis bukti. Untuk membantu kelangsungan psikoanalisis
sebagai disiplin akademik / psikiatris, analis harus didorong untuk
mengembangkan karir penelitian dan didukung di dalamnya. Jika penelitian
menunjukkan keuntungan terapeutik untuk perawatan psikoanalitik manual untuk
pasien dan gangguan tertentu, lembaga psikoanalitik dan program psikoterapi
psikoanalitik harus mempertimbangkan untuk menawarkan pelatihan kepada
kandidat psikoanalitik dalam perawatan tersebut.
|
Sugiharto, DYP. Mulawarman. Sunawan. 2017. Bahan Ajar Teori Dan Pendekatan Konselig. Semarang: UNNES PPS BK Press
|
|
6
|
Diferensiasi
dengan Teori/Pendekatan lain
a.
Keunggulan & dibanding teori lain
b.
Kritik terhadap teori
|
a.
Keunggulan teori/pendekatan Psikoanalisis
1.
Percaya dengan adanya motivasi yang
tidak selamanya disadari.
2.
Menggabungkan teori kepribadian dan teknikpsikoterapi.
3.
Pentingnya masa kanak –kanak dalam
perkembangankepribadian manusia.
4.
Model penggunaan interviewsebagai alat
terapi (wawancara).
5.
Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan
dapat memahami sifat manusia.
6.
Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui
analisis atas mimpi, resistensi dan trasnferensi.
7.
Pendekatan ini Memberikan kepada konselor suatu
kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahami
sumber-sumber dan fungsi simptomatologi.
Kemudian ketika dibandingkan dengan
teori lain. Disini saya akan membandingkan dengan teori/ pendekatan Gestalt
Pendekatan
gestalt mementingkan tanggung jawab, menekankan pengalaman menyeluruh
(pikiran, perasaan dan sensasi tubuh) dari individu. Lebih dipusatkan pada kondisi disini dan
saat ini (here and now) yaitu menyadari apa yang terjadi
dari waktu ke waktu menyangkut keseluruhan, tidak memandang manusia secara
bagian-bagian. Dan pengenalan kepada manusia dilihat dari lingkungannya.
Kelebihan
pendekatan gestalt :
1. Menangani amsa lalu dengan membawa
aspek-aspek yang relevan ke masa sekaran.
2. Menggairahkan hubungan dan
pengungkapan perasaan langsung dan menghindari intelektualisasi abstrak
tentang masalah-masalah konseli.
3. Memberikan perhatian terhadap pesan
nonverbail dan gerak tubuh.
4. Menolak mengakui ketidak berdayaan
sebagai alas an untuk tidak berubah.
5. Meletakan penekanan pada konseli
untuk menemukan makna-maknanya sendiri dan membuat penafsiran-penafsirannya
sendiri.
6. Dalam waktu yang sangat singkat, para
konseli bisa mengalami perasaan-perasaannya sendiri secara intents melalui
sejumlah latihan gestalt.
Kritik :
1.
faktor-faktor seperti waktu, biaya, dan ketersediaan
terapis psikoanalitik terlatih,
2.
aplikasi praktis dari banyak teknik psikoanalitik
terbatas. Ini adalah terutama berlaku metode seperti asosiasi bebas di sofa,
analisis mimpi, dan analisis ekstensif tentang hubungan transferensi. Faktor
yang membatasi praktik
3.
aplikasi psikoanalisis klasik adalah banyak klien
yang sangat terganggu kekurangan tingkat kekuatan ego yang dibutuhkan untuk
perawatan ini.
4.
Keterbatasan utama terapi psikoanalitik tradisional
adalah waktu yang relatif lama
5.
diperlukan komitmen untuk mencapai tujuan analitik.
6.
terapis
berorientasi tertarik pada masa lalu klien
|
Corey, Gerald. 2017. Theory
and Practice of Counseling and Psychotherapy, Tenth Edition. USA: Cengange learning.
|
|
7
|
Teori/Pendekatan
lain sebagai turunan teori asal:
a.
Nama pendekatan
b.
Konsep Dasar Ringkas
|
Teori
dan pendekatan lain sebagai turunan teori konseling psikoanalisis
Pendekatan Carl Jung
Konsep Dasar Ringkas
Pandangan
tentang sifat manusia
Jung menekankan peran maksud dalam
perkembangan manusia. Manusia hidup dengan sasaran-sasaran di samping dengan
sebab-sebab. Jung memiliki pandangan yang optimistis dan kreatif tentang
manusia, menekankan tujuan aktualisasi diri. Masa kini tidak hanya ditentukan
oleh masa lampau, tetapi juhga oleh masa sekarang.
Ketaksadaranpersonal,
meliputi pengalaman-pengalaman yang ada pada suatu saat disadari tetapi
kemudian direpresi dan terlupakan. Gagasan-gagasan yang menyakitkan dan
pemikiran-pemikiran yang tidak matang bagi kesadaran ditekan dan diabaikan.
Ketaksadaran
Kolektif, merupakan himpunan ingatan-ingatan terpendam yang
diwariskan dari nenek moyang.
Persona,
topeng yang digunakan dalam merespon situasi-situasi dan tuntutan-tuntutan social.
Animus
dan Anima, manusia
memiliki karakteristik feminism maupun maskulin. Sisi feminism yang dimiliki
yang dimiliki oleh pria adalah anima, sedangkan sisi maskulin yang dimiliki
oleh wanita adalah animus.
Dua
sikap yaitu, ekstraversi dan introversi
Pendekatan Alferd Adler
Konsep dasar ringkas
Pandangan
tentang sifat manusia, manusia dimotivasi terutama oleh dorongan-dorongan
social. Adler menenkankan determinan social keperibadian, bukan determinan
seksual. Pusat kepribadian adalah kesadaran,bukanketaksadaran.
Inferioritas
dasar dan kompensasi
Tujuan hidup adalah kesempurnaan,
bukan kesenangan. Menekankan bahwa setiap orang memiliki perasaan rendah
diri. Individu mengatasi ketidakberdayaannya itu dengan berkompensasi, yakni
mengembangkan gaya hidup yang memungkinkan tercapainya keberhasilan.
Usaha
untuk mencapai superioritas
Mengubah kelemahan dengan kekuatan
atau mencoba mencapai keunggulan pada suatu bidang sebagai kompensasi bagi
kekurangannya di bidang-bidang lain.
Gaya
hidup , gaya hidup individu dibentuk pada masa
kanak-kanak sebagai kompensai bagi inferioritasnya dalam hal tertentu.
pengalaman
masa kanak-kanak, susunan dalam keluarga bisa memperkuat perasaan
rendah diri pada anak. Anak sulung, anak kedua, anak bungsu, dan anak
tunggal.
|
Corey, Gerald. 2017. Theory
and Practice of Counseling and Psychotherapy, Tenth Edition. USA: Cengange learning.
|

Komentar
Posting Komentar